Blog

KISAH PERAWAT-PERAWAT TERLANTAR

author : Administrator | Date : 2015-11-23 | Time : 08:48:41 | Category :

Pada awal bekerja di Dubai, saya pernah melihat seorang perawat kita, lulusan D3 Keperatawan, hanya mampu bertahan selama 1 bulan bekerja di Sharjah, sebuah negara bagian di United Arab Emirates. Dengan berbagai alasan, mulai dari, yang katanya pimpinan bangsal yang cerwet, teman-teman kurang kerjasamanya, tidak merasa mendapat dukungan, hingga makanan yang kurang sesuai, kemudian, balik dia ke Indonesia.

Saat di Kuwait, kasus serupa saya temui. Hanya betah beberapa bulan, kemudian resign.

Di Qatar, saya tidak pernah mengetahui masalah seperti ini. Tetapi di sosial media, kembali ditulis oleh teman-teman, khususnya yang di Saudi Arabia. Mereka menyebut diri sebagai perawat yang terlantar. Biang kerok yang disalahkan adalah PJTKI, perusahaan yang merekrut mereka.
Saudara......

Saat ini, minimal jenjang pendidikan keperawatan adalah diploma 3. Usia lulus mereka rata-rata 21 tahun. Sebuah batasan usia yang disebut sebagai cukup dewasa.

Selama kuliah, mereka dibekali berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan profesi. Ilmu-ilmu selain keperawatan dan kedokteran, mereka juga mempelajari dan mempraktikkan ilmu sosial, psikologi, pendidikan masyarakat, lingkungan, gizi, laboratorium, farmasi, dan lain-lain sebagai bekal kerja. Mereka, dinyatakan lulus!

Itu berarti, mereka kompeten. Dengan kata lain, asumsi publik adalah, bahwa perawat tidak salah bila disebut sebagai profesional, yang dalam menjalankan tugasnya menggunakan ilmu yang ada dalam pikiran, dikerjakan dengan tangan, dengan segenap hati.

PJTKI hanya berperan membantu urusan administratif keberangkatan. Passport misalnya, perawat sendiri yang harus mengisi lembaran permohonan di kantor Imigrasi. Perawat itu sendiri yang harus menjawab pertanyaan di Imigrasi. Perawat yang meski mengikuti pelatihan misalnya, yang harus menjawab semua pertanyaan saat interview. Perawat itu sendiri pula yang tahu apakah kondisi tubuhnya sehat atau tidak sebelum berangkat. Perawat yang tahu apakah dokumen yang dimilki lengkap atau tidak: passport, KTP, Kartu Keluarga, Ijazah, Transcript, serta kontrak kerja. Intinya, perawat itu sendiri sebagai penentu gerak dirinya.

Jadi, ketika berada di luar negeri, kemudian perawat yang misalnya, dipekerjakan sebagai pembantu, atau sebagai Satpam, perawat itu sendiri yang harus menjawab. Sampaikan bahwa itu bukan tugasnya. "This is not my job!" Simpel. Jika perawat ternyata dibayar tidak sesuai dengan apa yang tertulis dalam perjanjian kontrak, perawat itu sendiri yang harus berani mengatakan,: "This is NOT my salary!" Simple.

Sebelum ke luar negeri, sudah ada yang namanya surat perjanjian kontrak kerja. Ini harus dipahami. Jangan asal tanda tangan, kemudian ngedumel ketika berada di luar negeri, dengan menyebut diri sebagai orang-orang yang terlantar dan menyebar luaskan di media masa. Tindakan seperti ini, tidak dewasa dan tidak lebih dari melecehkan diri serta profesi sendiri.

Jika sebelum berangkat, perawat sudah setuju dengan status pekerjaan, misalnya sebagai Assistant Nurse, Patient Attendant, atau apapun, lantaran masih fresh graduate, tidak punya pengalaman, jangan nanti sesudah tiba di negara tujuan protes, demo, tidak kerja dan mengadu ke kantor KBRI, Dengan alasan kerja tidak sesuai ijazah, tidak dibayar layak dan sebagainya. Jangan pula menyalahkan waktu tanda tangan kontrak di Jakarta tidak paham dengan apa yang tertulis dalam kontrak karena dalam Bahasa Arab. Apalagi menyalahkan orang lain karena dirinya adalah korban Calo TKI!

Common guys.....!!!!

Mohon introspeksi diri lah.......

Jujur saja, sebagian besar perawat kita sangat lemah dalam Bahasa Inggris. Beberapa saya melihat bagus, tetapi tidak lebih dari 10% pengalaman Indonesian Nursing Trainers melatih perawat yang berniat kerja di luar negeri ini. Kita juga lemah dalam berkomunikasi. Kurang dari 10% yang berani bicara, mengemukakan pendapat meski di pihak benar. Ironisnya, yang paling banyak adalah, bicara di 'belakang' dengan menyalahkan orang lain, lingkungan, dan sebagainya.

Ayolah kita benahi diri dan profesi ini. Jika kita merasa sebagai profesional, tunjukkan kepada dunia bahwa kita memang profesional. Sampaikan apa yang menurut anda tidak benar. Katakan apabila ada yang salah. Tolak apabila tidak sesuai dengan perjanjian.

Bukan sebaliknya, sesudah semua perjanjian hitam atas putih beres, semua disetujui, berangkat ke negeri orang yang urusannya butuh 4-6 bulan, birokrasi ribetnya bukan kepalang, berakhir berantakan hanya karena kita sendiri yang kurang bijaksana dalam bersikap.

Hidup di negeri orang itu tidak gampang. Tidak pula susah. Bergantung kepada bagaimana kita bersikap. Tergantung bagaimana kita menyesuaikan diri dengan ligkungan. Karena individu-individu yang asalnya sudah beda di Indonesia, tidak sama dengan mereka yang dari India, Filipina, Arab, Afrika, Eropa, Amerika dan Australia.

Harus disadari, bahwa mereka semua, teman-teman dari berbagai negara ini pada dasarnya sama: yakni manusia. Hanya pendekatan yang dbutuhkan barangkali yang berbeda.

Yang pasti, ada perbendaraan kata universal yang bisa digunakan sebagai alat untuk membuat kita betah. Perbendaharaan kata yang digunakan di semua negara, tanpa pandang bulu. Kata-kata: maaf, permisi, terima kasih disertai senyuman adalah ungkapan universal yang membantu kita terhindar dari status terlantar. Kata-kata yang membuat kita diterima di tengah-tengah mereka. Kata-kata yang membuat mereka senang terhadap kita.

Reputasi perawat Indonesia bisa terangkat manakala kemampuan komunikasi kita kedepankan. Kalau ketrampilan, di mana-mana sama saja, apakah India, Filipina, Amerika. Semua yang bekerja di tempat baru, mulai dari bawah. Tetapi kemampuan komunikasi, harus ada basic nya.

Jadi, belajarlah berkomunikasi dengan diri sendiri terlebih dahulu, sebelum menyampaikannya segala uneg-unegnya kepada orang lain. Ini penting, agar kita tidak terlantar.

Jangankan di luar negeri, di bumi Nusantara sendiri, bila kemampuan yang satu ini tidak dimaksimalkan, bukan tidak mungkin, perawat tidak bakalan berani keluar rumah hanya karena takut tersesat.

So, stop blaming others!

Malang, 19 Nov 2015
Syaifoel Hardy - Indonesian Nursing Trainers

Search

Categories Article

Binamandiri

Binamandiri is a family business company in recruitment Industry that has been run for 2 generations for almost three decades. Despite the weakness of Family business, Binamandiri has transformed to p

Find Us On

Visit Us

Jl. Kartini No.1 Malang 65111
Jawa Timur - Indonesia
+62 (341) 323990
+62 (341) 366566
info@binamandiri.com
Copyright © 2015. Binamandiri Muliaharja. All rights reserved.